Banyak yang menganggap jika resesi ekonomi merupakan suatu keadaan yang tak jauh berbeda dengan krisis ekonomi. Padahal, kedua topik tersebut punya kondisi perekonomian yang tak sama loh, workers. Apalagi jika melihat besarnya cakupan ‘keparahan’ yang berdampak pada masyarakat di negara tersebut. Lalu apa perbedaan keduanya? Simak terus artikel ini untuk mengetahui lebih lanjut ya, workers!

Definisi resesi ekonomi dan krisis ekonomi

Resesi sendiri diartikan pada suatu keadaan dimana pertumbuhan ekonomi negara mengalami penurunan dalam dua kuartal berturut-turut. Hal ini biasanya ditandai dengan menurunnya aktivitas daya beli masyarakat serta meningkatnya jumlah pengangguran.

Sementara itu, krisis ekonomi terjadi akibat penurunan drastis kondisi ekonomi suatu negara yang berdampak pada berbagai sektor, seperti pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, nilai tukar mata uang, dan berbagai indikator ekonomi lainnya.

resesi ekonomi
Image by ededchechine on Freepik

Apa perbedaan resesi dan krisis ekonomi?

Perbedaan utama antara resesi dan krisis ekonomi adalah dampak yang ditimbulkan. Resesi ekonomi memiliki dampak yang lebih besar dan rentang waktu yang lebih panjang pada suatu negara. Bahkan, penurunan grafik ekonomi dalam satu kuartal saja sudah dapat dikategorikan sebagai krisis. Namun, jika resesi terus berlanjut dan mengalami penurunan ekstrem hingga dua tahun berturut-turut atau lebih, maka akan muncul fase lanjutan yang menakutkan, yaitu depresi ekonomi.

Depresi ekonomi merupakan kondisi paling parah dari resesi ekonomi yang berlangsung cukup lama. Negara yang mengalami depresi ekonomi akan mengalami masalah perekonomian yang sulit untuk diatasi.

Apakah resesi akan terjadi lagi di Indonesia?

Menurut data dari Bank Indonesia tingkat inflasi Indonesia pada tahun 2020 sebesar 2.83% dan pada tahun 2021 sebesar 2.07% menunjukan bahwa kondisi ekonomi Indonesia cukup stabil. Namun demikian, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa tingkat pengangguran di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 5.32%, yang menunjukkan bahwa masih ada masalah yang harus diatasi dalam bidang pemberdayaan tenaga kerja.

Perlu diketahui juga bahwa resesi bukan hanya ditimbulkan oleh faktor dalam negeri saja, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh faktor global seperti perang, konflik, atau krisis finansial. Seperti krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2008 yang disebabkan oleh krisis keuangan di Amerika Serikat dan menyebar ke seluruh dunia.

Baca juga: Resesi Indonesia – Kilas Balik dari Masa ke Masa

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperkirakan bahwa ekonomi global memiliki risiko kerugian US$ 4 triliun pada 2026 akibat resesi. Sementara di tahun 2023, IMF telah menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi global menjadi hanya 2,9 persen seiring dengan resesi.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan selain akibat risiko resesi dan ketidakstabilan keuangan pasca Covid-19, invasi Rusia ke Ukraina dan bencana lantaran perubahan iklim juga menambah proyeksi gelapnya perekonomian global beberapa tahun mendatang, seperti yang dilansir oleh Tempo.co.

Sebagai negara berkembang, Indonesia harus tetap waspada akan potensi resesi yang dapat terjadi. Pemerintah harus terus berupaya meningkatkan kualitas SDM dan infrastruktur, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk menjaga stabilitas ekonomi. Sementara itu, masyarakat juga harus memperhatikan kondisi keuangan pribadi dan menyiapkan dana darurat untuk menghadapi masa-masa sulit.

Bagaimana menyikapi isu resesi Indonesia di 2023?

Sementara isu resesi kian mewarnai pemberitaan akhir-akhir ini, Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah Redjalam mengemukakakn keyakinannya bahwa Indonesia tidak akan mengalami resesi pada 2023, “Tidak adastatementyang mengatakan Indonesia akan resesi. Adanya pernyataan global akan resesi. Namun, kita harus tetap waspada,” ujar Piter seperti yang dikutip dari Tempo.co.

Justru 2023 justru menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengejar pemulihan ekonomi dan melaksanakan normalisasi, juga bagi masyarakat untuk mencari peluang dan bangkit dari efek pandemi. “Saya meyakini tahun depan itu perekonomian kita akan bangkit karena pandemi. Jika dilihat dari perkembangan sekarang, akan sudah berubah menjadi endemi,” tambahnya.

menghadang resesi ekonomi
Image by mindandi on Freepik

Bagaimana Indonesia bisa menghadang resesi ekonomi?

Salah satu cara untuk menghadang resesi ekonomi adalah dengan meningkatkan daya saing negara. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, meningkatkan infrastruktur, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif. Pemerintah juga harus memperhatikan kondisi perdagangan global dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi potensi terjadinya resesi.

Selain itu, dalam kasus dimana benar-benar terjadi resesi, pemerintah juga dapat mengambil kebijakan fiskal dan monetar untuk mengatasi resesi. Kebijakan fiskal dapat berupa pengeluaran pemerintah yang ditujukan untuk mempercepat pemulihan ekonomi, seperti pengadaan proyek infrastruktur. Sedangkan kebijakan monetar dapat berupa perubahan suku bunga atau intervensi pasar valuta asing yang dilakukan oleh bank sentral.

Mungkin kamu juga akan tertarik membaca artikel Cara Mengatasi Resesi Ekonomi dengan Hidup Serba Irit Justru Kurang Tepat. Begini Harusnya.

Masyarakat juga memiliki peran dalam mengantisipasi potensi resesi dengan cara memperhatikan kondisi keuangan pribadi dan menyiapkan dana darurat untuk menghadapi masa-masa sulit. Hal ini dapat dilakukan dengan menyisihkan sebagian pendapatan untuk dana darurat atau menempatkan uang dalam bentuk investasi yang aman dan stabil.

Dalam menghadapi resesi ekonomi, kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sangat diperlukan. Pemerintah harus terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur serta menciptakan iklim usaha yang kondusif. Sementara itu, swasta harus tetap berupaya meningkatkan daya saing dan masyarakat harus memperhatikan kondisi keuangan pribadi dan menyiapkan dana darurat. (dit)

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *